(Arena Bobotoh) Persib dan Penentu Keberhasilan dalam Adu Penalti

WM PRSB v PBFC_170305_0017Hasil yang tak terduga terjadi pada ajang piala Presiden pada hari Minggu lalu. “Hanya” membutuhkan satu gol untuk lolos, Persib malah hanya mampu bermain dengan skor 2-1 hingga babak perpanjangan waktu dan akhirnya mengalami kekalahan melalui drama adu penalti. Setelah melihat begitu banyak pledoi untuk Kim Kurniawan yang gagal dalam menjalankan eksekusi penaltinya,hal menarik justru dilihat oleh penulis. Tentu kekalahan Persib tidak hanya karena seorang Kim yang gagal dalam mengeksekusi penalti. Ada hal-hal lain yang seolah menjadi pendukung kekalahan Persib dalam babak adu penalti melawan PBFC.

Tekanan Mental
Hal ini sudah banyak diungkapkan dalam berbagai macam artikel ataupun jurnal penelitian. Adu penalti tidak hanya berkenaan soal teknik tapi juga mental. Siapa yang meragukan kemampuan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi dalam hal teknik bermain? Bahkan dua pemain yang disebut-sebut terbaik saat ini pun pernah mengalami kegagalan mengeksekusi penalti dalam situasi genting. Ditambah para penggawa PBFC sudah sangat berpengalaman dalam hal adu tos-tosan pada ajang piala Presiden kali ini. Kemenangan atas Madura United pada babak 8 besar melalui adu penalti seolah menggambarkan kepercayaan diri skuat Pesut Etam dalam menghadapi babak adu penalti melawan Persib pada laga itu. Ekspresi para pemain PBFC yang begitu enjoy berbanding terbalik dengan yang diperlihatkan para pemain Persib yang begitu tegang dalam menghadapi babak tos-tosan. Seperti yang dilansir detik about the game dalam artikel berjudul “Bagaimana Memenangi Adu Penalti” dikemukakan bahwa “Peneliti dari London School of Economics dan Political Science (LSE) juga mengemukakan, bahwa tim yang melakukan tendangan pertama memiliki presentase kemenangan sebesar 60%. Faktor psikis dan tekanan yang menjadi salah satu alasan terbesarnya.”

Entah kebetulan atau tidak,PBFC bertindak sebagai algojo pertama dan berhasil memenangi drama adu penalti. Bahkan Franz Beckenbauer juga berujar “Tendangan penalti selalu tidak adil karena banyak keberuntungan yang terlibat di dalamnya,” Legenda sepakbola Jerman dan Bayern Munchen juga meyakini, bahwa adu penalti merupakan fase yang tidak adil karena tim yang mendominasi dan tampil lebih baik belum tentu menjadi pemenang. Ungkapan sang legenda Jerman seolah menggambarkan situasi yang terjadi di Si Jalak Harupat pada laga itu.

Tidak Ada Persiapan Khusus untuk Adu Penalti
Pelatih Djadjang Nurdjaman dalam beberapa sesi latihan memang tidak menyertakan adu penalti ke dalam materi latihannya. Mungkin ini juga yang berpengaruh pada kepercayaan diri para pemain dalam menghadapi babak tos-tosan. Meskipun memang dalam hal tos-tosan,seperti disebutkan di awal tidak hanya mengandalkan teknik semata, tapi persiapan tetap harus dilakukan. Sebagai contoh, kita tentu mengingat saat Chelsea menjadi juara Liga Champions Eropa 2012. Sang kiper, Petr Cech mengaku mempelajari video tendangan penalti para penggawa Munchen selama 2 jam penuh. Dan hasilnya? Cech berhasil menggagalkan 2 tendangan penggawa Bayern bahkan menebak seluruh arahnya. Ini menandakan begitu pentingnya persiapan dalam hal adu penalti meskipun di lapangan, segala sesuatu sangat mungkin terjadi.

Mind Games yang Tidak Terlihat
Entah kebetulan atau tidak, mind games sering kali menentukkan dalam hal krusial seperti adu penalti. Menurut kamus bahasa Inggris,mind games berarti “deliberate actions of calculated psychological manipulation intended to intimidate or confuse (usually for competitive advantage)” Singkatnya, mind games adalah upaya untuk memanipulasi atau mengganggu kondisi psikologis seseorang untuk mendapat keuntungan. Dari sini,sekilas saat match kemarin, para penggawa Persib minim dalam melakukan mind games. Para penggawa Persib malah terlihat gugup dalam menjalankan tugasnya sebagai algojo penalti dimana hal itu wajar-wajar saja. Tapi kita tentu mengingat bagaimana Tim Krul dengan mind games nya berhasil membawa Belanda memenangi babak knockout Piala Dunia 2014 di Brazil. Masuk pada menit ke 119, Tim Krul seolah dipersiapkan untuk menjadi kiper untuk adu tos-tosan. Terbukti hasilnya, Tim Krul menjadi pahlawan kemanangan Belanda dalam laga itu.

Contoh lain yang lebih melegenda adalah begitu heroiknya Jerzy Dudek menahan tendangan penalti para penggawa AC Milan. Kemenangan bersejarah di Istanbul itu. Dudek nampak beberapa kali melakukan gerakan hiperkatf untuk mengacaukan konsentrasi para penggawa AC Milan yang mentalnya sudah terpukul pasca disamakan kedudukannya setelah unggul 3-0. Alhasil Liverpool sukses menjadi juara Liga Champions Eropa 2005. Ini selaras dengan penelitian jurnal sports science yang berjudul “A Moving Goalkeeper Distracts Penalty Takers and Impairs Shooting Accuracy” (2010). Disitu dijelaskan bahwa gerakan hiperaktif penjaga gawang seolah mempengaruhi kondisi mental para penendang bahkan,arah tendangan cenderung ke tengah dan tentu lebih mudah untuk diantisipasi lawan. Pada laga kemarin,terlihat para penggawa Persib minim bahkan nyaris tidak pernah melakukan mind games terhadap kiper Wawan Hendrawan. Setidaknya Ryan Giggs pernah melakukan hal ini. Ia meletakan bola menggunakan kaki seolah tendangan penalti merupakan hal yang mudah untuk dilakukan.

Sumber Lain: Panditfootball.com,detik sport about the game,artikata.com

Ditulis oleh Rizky Abdul Azis, pelajar SMAN 10 Bandung, berakun twitter @Rizkyabdul1998, dan ngeblog di  Anakgawang98.blogspot.co.id

Anda sedang membaca (Arena Bobotoh) Persib dan Penentu Keberhasilan dalam Adu Penalti yang di kutip dari : simamaung
Kunjungi sumber : (Arena Bobotoh) Persib dan Penentu Keberhasilan dalam Adu Penalti

adminHeadline
(Arena Bobotoh) Persib dan Penentu Keberhasilan dalam Adu Penalti Hasil yang tak terduga terjadi pada ajang piala Presiden pada hari Minggu lalu. “Hanya” membutuhkan satu gol untuk lolos, Persib malah hanya mampu bermain dengan skor 2-1 hingga babak perpanjangan waktu dan akhirnya mengalami kekalahan melalui drama adu penalti. Setelah melihat...
Info Seputar Teknologi